














Jakarta - Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia dan The Australian Academy of Science menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) baru untuk kerjasama keilmuan pada tanggal 11 Juni 2013. Presiden Australian Academy of Science, Profesor Suzanne Cory, saat ini berada di Jakarta setelah sebelumnya menjadi pembicara dalam sebuah seminar di Universitas Hasanuddin, Makassar. Prof. Cory datang ke Indonesia atas undangan Kedutaan Australia di Jakarta dan undangan Presiden Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof. Sangkot Marzuki dan akan melakukan kunjungan di Indonesia hingga 19 Juni 2013.
Prof. Cory mengharapkan MoU ini akan memperkuat ikatan keilmuan antara Australia dan Indonesia, salah satu tetangga terdekatnya. “Australia perlu meningkatkan level keterlibatan global dalam sains dan teknologi untuk kepentingan nasional,” kata Prof. Cory. “Salah satu cara mewujudkannya adalah melalui kerjasama regional. Saya berharap bisa memfasilitasi kerjasama yang kini tengah berlangsung antara Australia dan Indonesia di bidang penelitian dan pendidikan sains”, lanjutnya.
Selama kunjungan, Prof Cory selain menjadi pembicara di Universitas Hasanuddin Makassar dan Kedutaan Australia di Jakarta, juga menjadi pembicara di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Read more: Kerjasama Keilmuan AIPI dengan Australian Academy
Pada hari Jum’at, tanggal 19 April 2013 bertempat di Galeri Cemara 6 telah berlangsung kuliah inaugurasi anggota baru Komisi Kebudayaan Akademi Ilmu Pengetahuan (AIPI) yaitu Prof. Dr. Yunita Triwardani Winarto dan Prof. Dr. Benny Hoedoro Hoed yang terpilih dan diangkat sebagai anggota baru AIPI dan telah disahkan pada sidang paripurna AIPI tahun 2012.
Kuliah inaugurasi merupakan suatu proses yang harus dijalankan oleh semua anggota baru terpilih AIPI setelah pengesahan keanggotaannya ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia. Pada kuliah inaugurasi anggota baru terpilih harus menyampaikan pidato sesuai tema yang mereka ambil untuk dipresentasikan.
Prof. Yunita menyampaikan dalam kuliah inaugurasinya mengambil tema “‘Memanusiakan Manusia’ dalam Lingkungan yang Tangguh: Mengapa ‘Jauh Panggang dari Api’?” Bahwa merupakan suatu realita empiris bahwa kondisi lingkungan tempat kita menggantungkan hidup telah semakin terdegradasi oleh berbagai kegiatan pengelolaan sumber daya alam yang dilandasi berbagai kepentingan tanpa mempertimbangkan ketangguhan ekosistem jangka panjang. Terutama, tanpa melibatkan pengampu budaya habitat itu yang secara turun temurun telah mengembangkan berbagai pranata sosial-budaya untuk menjaga ketangguhan lingkungan dan kesejahteraan mereka. Pengampu budaya itu, seperti petani, tergantikan posisi dan perannya oleh mereka yang memiliki kekuasaan dan kewenangan dalam program-program “pembangunan” berlandaskan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan negara dan masyarakat luas. Petani pun semakin lama semakin “terasing” secara ekologis dan budaya di lahannya sendiri. Tidak terjalin keterhubungan dengan proses-proses fisik-alamiah yang terjadi akibat praktik pengelolaan sumber daya di luar pengetahuan empirisnya.
Read more: Memanusiakan Manusia’ dalam Lingkungan yang Tangguh: Mengapa ‘Jauh Panggang dari Api’?
Pada hari Rabu, tanggal 22 Mei 2013, AIPI Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar (KIPD) dan Komisi Kebudayaan (KK) menyelenggarakan suatu Focus Group Discussion (FGD) terbatas dengan peserta + 30 orang mengenai “KEPEDULIAN PENGAMATAN PERILAKU TAKBIASA SATWA MENJELANG GEMPA BUMI DAN BENCANA ALAM LAIN” di Hotel IBIS Slipi, Jl. Letjen S Parman Kav 59, Jakarta 11066, dibuka oleh Ketua Komisi IPD, Prof.Mien A Rifai dan dihadiri oleh anggota-anggota komisi IPD, anggota Komisi Budaya dan komisi AIPI lain yang seminat, wakil BMKG, BNPB, LIPI, Kemenristek, BPPT, para mitra pakar dan pemerhati lain yang berminat, dengan mengundang 5 (lima) mitra pakar pembicara dalam bidang masing-masing yang terkait dengan tujuan FGD.
Kenyataan, datangnya gempa bumi dahsyat dan bencana alam lainnya sukar diperkirakan akan datangnya baik kapan waktunya maupun seberapa besar kekuatannya. Dengan demikian korban bencana alam itu dapat sangat besar. Kita masih ingat pengalaman korban yang banyak dari peristiwa tsunami Aceh 26 Desember 2004 dan gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 yang memakan banyak korban. Tiadanya kemampuan peramalan ini, maka masyarakat tetap hidup dalam bahaya dan terjebak dalam musibah tanpa dapat mengungsi terlebih dahulu ke tempat yang aman. Abad ke 20 mencatat korban gempa bumi di seluruh dunia mencapai 1.5 juta orang.
Gempa Cina 1556 yang menimpa provinsi Shansi menelan korban mati 830.000 orang. Peramalan yang sekarang paling-paling masih dipercaya/dianut adalah adanya laporan dari berbagai penjuru dunia tentang adanya perilaku aneh satwa pragempa, jadi menjelang terjadinya gempa bumi yang dahsyat. Laporan-laporan berbentuk ceritera rakyat dan legenda itu dilaporkan dari berbagai negara terutama yang rentan mengalami gempa bumi seperti Cina, Jepang, Turki, dll. Dari Indonesia sendiri laporan-laporan semacam itu sangat langka. Bahwa ceritera-cerita itu bermanfaat dipakai sebagai peramalan telah mendapat dukungan bukti-buktinya misalnya kasus Cina: Sadar akan pengalaman pahit mengalami musibah gempa, Cina menyatakan melalui Bureau Gempabumi Nasional pada 1974 bahwa akan terjadi gempa besar di provinsi Liaoning, dalam jangka waktu satu-dua tahun kedepan. Prediksi tersebut dimungkinkan setelah mempelajari selama 4 tahun laporan dan data gempa selama 3000 tahun sejarah gempa negeri itu.
Read more: Perilaku Takbiasa Satwa Menjelang Gempa Bumi Dan Bencana Alam