Arah Pendidikan Indonesia Terintegrasi

BERITA  KEGIATAN SEMINAR SEHARI DI Media Online

ARAH PENDIDIKAN NASIONAL MENUJU INDONESIA
MULTIKULTURAL TERINTEGRASI
Kerjasama antara Komisi Kebudayaan AIPI dan Universitas Tadulako
Palu, Sabtu , 26 Mei 2012
 

Manipulasi Hapuskan Semangat Nasionalisme
(http://www.harianmercusuar.com/?vwdtl=ya&pid=18450&kid=all)

PALU, MERCUSUAR - Anggota Komisi Kebudayaan dari Asosiasi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Prof Dr Franz Magnis Suseno SJ, menilai menipulasi terhadap sesuatu saat ini sangat mempengaruhi semangat nasionalisme terhadap Indonesia.  Salah satu produk modernitas yang beriring dengan manipulasi adalah mall. Pusat perbelanjaan modern ini menurut Romo Magnis, panggilan akrabnya, sangat cepat memanipulasi seseorang. Sehingga orang datang untuk berbelanja, bukan karena ingin berbelanja, tapi karena pencitraan atau image. Manipulasi ini sangat gawat karena menghapuskan semangat nasionalisme, tutur pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta ini di Palu, Sabtu (26/5). Romo Magnis datang ke Universitas Tadulako Palu guna menghadiri seminar berjudul "Arah Pendidikan Nasional Menuju Indonesia Multikultural Terintegrasi" kerjasama AIPI dan Untad.

Romo juga menyinggung fundamentalisme agama sebagai tantangan universal bangsa Indonesia selanjutnya. Fundamentalisme agama adalah reaksi dari modernitas. Ini tantangan yang sangat besar, katanya. Modernitas, lanjutnya, sudah ada sebelum kapitalisme muncul.

Sementara itu, Ketua Komisi Kebudayaan AIPI, Prof Dr Toety Herati Noerhadi saat membuka seminar mengaku tidak mudah membahas tema seminar tersebut. Menurut dia, baik multikulturalisme maupun integrasi, masing-masing memiliki makna sendiri sehingga kontradiktif. Tidak mudah menggabungkannya, tandasnya.

Seminar tersebut menghadiri sejumlah pembicara lokal Sulteng, antara lain Guru Besar Antropologi Pembangunan Untad, Prof Dr Sulaiman Mamar MA dengan makalah "Budaya Berfikir Positif Etnis Sebagai Modal Pendidikan Karakter di Indonesia" serta Dr Asep Mahfudz MSi dengan makalah "Pendidikan Harmoni". Pemaparan kondisi pendidikan di Sulteng juga disampaikan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Sulteng, Prof Dr rer pol Patta Tope SE. DAR

LAWAN GLOBALISASI DENGAN CINTA TANAH AIR

(http://www.klikheadline.com/in/berita/berita.asp?id=news5262012213435lqstozmjy6ehmve944987130)
 

PALU (Klik HL) - Sosiolog dari Universitas Tadulako (Untad) Palu, Sulawesi Tengah, Christian Tindjabate, mengatakan, pengaruh negatif globalisasi bisa dilawan dengan meningkatkan rasa cinta Tanah Air. "Cinta Tanah Air bisa diwujudkan dengan lebih mencintai produk dalam negeri," kata Tindjabate dalam seminar "Arah Pendidikan Nasional Menuju Multikultural Terintegrasi" di Palu, Sabtu (26/5).

Ia mengatakan, globalisasi menyebabkan peredaran berbagai produk barang dan jasa dari luar negeri mudah dijumpai di Indonesia. Nah, kalau sudah mencintai produk dalam negeri, pengaruh globalisasi bisa ditepis. Ia juga mengatakan, pengaruh buruk globalisasi, terutama dalam merosotnya nilai moral juga bisa ditangkis dengan sikap saling menghargai antarsesama.

Menurut dia, sikap saling menghargai juga harus diajarkan kepada generasi muda atau anak-anak agar tetap terjaga. Sementara itu, pemerhati budaya Universitas Tadulako Palu, Sulaiman Mamar, mengatakan, saat ini sifat gotong-royong susah ditemui di wilayah perkotaan karena kesibukan bekerja. "Gotong-royong di masyarakat perkotaan bisa muncul kalau ada yang membayar," katanya, yang dikutip Antara, Sabtu malam.

Ia mengatakan, gotong-royong masih ditemukan di desa, karena pengaruh globalisasi belum terasa. Sulaiman juga mengatakan, keanekaragaman suku dan budaya adalah modal bangsa Indonesia di era global. Untuk menjaga dan melestarikan budaya adalah dengan berupaya bertahan menghadapi gempuran budaya asing, yang saat ini digemari kalangan generasi muda. (KlikHeadline)

Kavli Frontiers of Science

Join the Third Indonesian-American Kavli Symposium, 2013

The Kavli-Frontiers of Science Series was inaugurated in Irvine, California on March 2-4, 1989, through a symposium on Frontiers of Science, organized by a committee of young scholars with the support of the National Science Foundation, the Alfred P. Sloan Foundation, and the National Academy of Sciences. These annual symposia bring together some of the very best young scientists to discuss exciting advances and opportunities in their fields in a format that encourages informal collectives as well as one-on-one discussions among participants. Speakers are urged to focus their talks on current cutting-edges research in their disciplines to colleagues outside their fields. Typically, these symposia are attended by approximately 80 to 100 scholars, by up to a dozen senior colleagues, and by several science writers. Attendees for the Frontiers of Science symposia are selected from the pool of young researchers (PhD under 45 years of age) who have made significant contribution to science.

Read more...

Organization

Council

President
Prof. Dr. Sangkot Marzuki, AM
Vice President 
Prof. Dr. Sediono M.P. Tjondronegoro
Secretary-General 
Dr. Budhi M. Suyitno, IPM
Commission of Basic Science (Chair)
Prof. Mien A Rifai, MSc., PhD.
Commission of Medical Science (Chair)
Prof. Dr. R. Sjamsuhidajat
Commission of Engineering Science (Chair)
Prof. Dr. F.G Winarno
Commission of Social Science (Chair)
Prof. Dr. Taufik Abdullah
Commission of Culture (Chair)
Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi

The History

AIPI: Responding to the Challenge while Comprehending the Past (*)

A Historical Sketch

This is a story of an intercultural transmission, because science is a cultural construct, driven by the paradigm of development. Modern science, natural sciences in particular, were developed in the beginning of the 16th century, almost exclusively in Western Europe and, to some extent, in North America and were spread to all corners of the world in pursue of western hegemony. In this period scientific power and the power of reasoning have shown that they helped to develop welfare, to speed up physical development and, perhaps above all, to free mankind from the fear of natural occurrences.

There is growing evidence that the spread of European science into their Asian colonies was closely tied with the imperialism and colonialism. Starting in the 19th century science became inseparable part from economic opportunity, the promise of natural wealth and material return. Undoubtedly colonization entailed a massive cultural effort which influenced significantly the cognitive and, perhaps, material existence of both the colonizer and the colonized. In its encounter with “Indie”, the Dutch sought to change, based on their own scientific experience, the Indie archipelagoes in its own image. By using the newly acquired sciences of biology, meteorology and geophysics, to learn more what were hidden behind the lush tropical nature.

Read more...

Regulation

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) didirikan pada tahun 1990, dengan Undang-Undang  Republik  Indonesia  No. 8 Tahun 1990  tentang   Akademi  Ilmu Pengetahuan Indonesia, sebagai badan independen yang memberikan pendapat dan saran  kepada  pemerintah  dan  masyarakat  mengenai  penguasaan,  pengembangan, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Silahkan download PDF nya sebagai berikut: Undang-Undang No. 8/1990 tentang AIPI