PALU, MERCUSUAR - Anggota Komisi Kebudayaan dari Asosiasi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Prof Dr Franz Magnis Suseno SJ, menilai menipulasi terhadap sesuatu saat ini sangat mempengaruhi semangat nasionalisme terhadap Indonesia. Salah satu produk modernitas yang beriring dengan manipulasi adalah mall. Pusat perbelanjaan modern ini menurut Romo Magnis, panggilan akrabnya, sangat cepat memanipulasi seseorang. Sehingga orang datang untuk berbelanja, bukan karena ingin berbelanja, tapi karena pencitraan atau image. Manipulasi ini sangat gawat karena menghapuskan semangat nasionalisme, tutur pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta ini di Palu, Sabtu (26/5). Romo Magnis datang ke Universitas Tadulako Palu guna menghadiri seminar berjudul "Arah Pendidikan Nasional Menuju Indonesia Multikultural Terintegrasi" kerjasama AIPI dan Untad.
Romo juga menyinggung fundamentalisme agama sebagai tantangan universal bangsa Indonesia selanjutnya. Fundamentalisme agama adalah reaksi dari modernitas. Ini tantangan yang sangat besar, katanya. Modernitas, lanjutnya, sudah ada sebelum kapitalisme muncul.
Sementara itu, Ketua Komisi Kebudayaan AIPI, Prof Dr Toety Herati Noerhadi saat membuka seminar mengaku tidak mudah membahas tema seminar tersebut. Menurut dia, baik multikulturalisme maupun integrasi, masing-masing memiliki makna sendiri sehingga kontradiktif. Tidak mudah menggabungkannya, tandasnya.
Seminar tersebut menghadiri sejumlah pembicara lokal Sulteng, antara lain Guru Besar Antropologi Pembangunan Untad, Prof Dr Sulaiman Mamar MA dengan makalah "Budaya Berfikir Positif Etnis Sebagai Modal Pendidikan Karakter di Indonesia" serta Dr Asep Mahfudz MSi dengan makalah "Pendidikan Harmoni". Pemaparan kondisi pendidikan di Sulteng juga disampaikan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Sulteng, Prof Dr rer pol Patta Tope SE. DAR
(http://www.klikheadline.com/in/berita/berita.asp?id=news5262012213435lqstozmjy6ehmve944987130)
PALU (Klik HL) - Sosiolog dari Universitas Tadulako (Untad) Palu, Sulawesi Tengah, Christian Tindjabate, mengatakan, pengaruh negatif globalisasi bisa dilawan dengan meningkatkan rasa cinta Tanah Air. "Cinta Tanah Air bisa diwujudkan dengan lebih mencintai produk dalam negeri," kata Tindjabate dalam seminar "Arah Pendidikan Nasional Menuju Multikultural Terintegrasi" di Palu, Sabtu (26/5).
Ia mengatakan, globalisasi menyebabkan peredaran berbagai produk barang dan jasa dari luar negeri mudah dijumpai di Indonesia. Nah, kalau sudah mencintai produk dalam negeri, pengaruh globalisasi bisa ditepis. Ia juga mengatakan, pengaruh buruk globalisasi, terutama dalam merosotnya nilai moral juga bisa ditangkis dengan sikap saling menghargai antarsesama.
Menurut dia, sikap saling menghargai juga harus diajarkan kepada generasi muda atau anak-anak agar tetap terjaga. Sementara itu, pemerhati budaya Universitas Tadulako Palu, Sulaiman Mamar, mengatakan, saat ini sifat gotong-royong susah ditemui di wilayah perkotaan karena kesibukan bekerja. "Gotong-royong di masyarakat perkotaan bisa muncul kalau ada yang membayar," katanya, yang dikutip Antara, Sabtu malam.
Ia mengatakan, gotong-royong masih ditemukan di desa, karena pengaruh globalisasi belum terasa. Sulaiman juga mengatakan, keanekaragaman suku dan budaya adalah modal bangsa Indonesia di era global. Untuk menjaga dan melestarikan budaya adalah dengan berupaya bertahan menghadapi gempuran budaya asing, yang saat ini digemari kalangan generasi muda. (KlikHeadline)