Pengembangan Budaya Ilmiah Melalui Penyadaran Sains

KIPD-AIPI, Malang - Sejarah perkembangan sains menunjukkan bahwa pengembangannya didorong oleh  rasa keingin-tahuan yang menyangkut perilaku alam semesta. Usaha-usaha untuk menjawab berbagai pertanyaan menyangkut perilaku alam ini dilakukan secara murni dalam rangka penjawaban pertanyaan tersebut. Apa yang keluar dari usaha-usaha tersebut adalah diperolehnya berbagai wawasan dan hukum alam baru tentang alam semesta, serta tertanamnya sikap kejujuran dan keobjektifan ilmiah. Terbukanya wawasan dan hukum alam baru ini memberikan peluang pengembangannya menjadi produk-produk terapan baru, yang sebelumnya tidak dikenal.

Walau manfaat pengembangan sains dasar cukup jelas, namun bukan rahasia lagi bahwa usaha-usaha ke arah itu di Indonesia saat ini belum mendapatkan prioritas yang memadai. Salah satu penyebab adalah masih terlalu ditekankannya faham bahwa setiap kegiatan penelitian harus menghasilkan produk atau patent, sesuatu yang merupakan tujuan dalam penelitian terapan, tetapi bukan tujuan utama dalam penelitian sains dasar. Selain itu juga dikarenakan masih kurangnya pemahaman bahwa pengembangan sains dasar adalah pengembangan budaya, sesuatu yang memang sudah seharusnya menjadi tanggung jawab negara, karena hasilnya adalah sumbangan budaya bangsa pada khasanah budaya dunia.  

Bila keadaan ini berlangsung berkepanjangan, Indonesia dapat mengalami kekurangan sumber daya manusia yang mumpuni dalam pengajaran maupun penelitian sains dasar.  Akibat langsung adalah stagnasinya pengajaran dan penelitian sains dasar, yang hanya akan berjalan di tempat tanpa sumbangan berarti pada khasanah budaya dan keilmuan dunia. Mengingat  pendidikan, penelitian dan pengembangan bidang-bidang teknologi, kedokteran dan pertanian juga memerlukan dukungan keilmuan maupun tenaga dalam sains dasar, akibat lainnya adalah terjadinya stagnasi dalam pengembangan ilmu-ilmu terapan ini.

Sebagai lembaga ilmu pengetahuan tertinggi di Indonesia, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) seyogyanya menjadi lembaga penjaga keberadaan dan  kelangsungan hidup ilmu pengetahuan di Indonesia. Berdasarkan ini, Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar (IPD)-AIPI telah menyelenggarakan seminar tentang “Pengembangan Budaya Ilmiah Melalui Penyadaran Sains”, sebagai bagian dari kegiatan “Kepedulian Pada Pengembangan Sains Dasar”, yang telah dimulai sebelumnya  di Jakarta pada bulan November 2012. Kegiatan seminar ini  dirancang sebagai pewujudan dari dua tema Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar, yaitu “Pemelekan Sains” dan “Pengembangan Ilmu-ilmu Antar Bidang”.

Sejalan dengan permasalahan yang sedang dihadapi saat ini, pembahasan tentang ilmu antar bidang difokuskan pada dua hal yaitu “Perubahan Cuaca” dan ”Keanekaragaman Hayati”, khususnya bagaimana menyadarkan masyarakat tentang dampak keduanya  dan bagaimana memasukkannya ke dalam bagian dari pengajaran dan pembelajaran sains/IPA. Selain itu juga dilakukan pembahasan tentang “Pembelajaran yang Membudayakan Sains” serta “Pengintegrasian Azas Etika dan Bioetika Dalam Pengembangan dan Pengajaran Sains”.

Untuk penyelenggaraan seminar ini Komisi IPD – AIPI telah bekerja sama dengan  FMIPA-  Universitas Negeri Malang (UM), Jawa Timur , dalam suatu seminar sehari bertempat di Aula FMIPA Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang 5, Malang, pada hari Sabtu tanggal 9 Februari 2013, dengan  menghadirkan empat (4) pembicara 1. Prof.Dr. Kurniatun Hairiah, pakar Perubahan Iklim Universitas Brawijaya, mengangkat topik “Identifikasi dan Pemilahan Butir-butir Materi Perubahan Iklim Untuk Kurikulum”. 2.Dr.Jatna Supriatna, Pakar  senior biodiversity, Anggota Komisi IPD-AIPI, bertajuk “Belajar dari Kegagalan Pemahaman dan Penanaman Konsep Keanekaragaman Hayati”. 3. Prof.Dr. Iwan Pranoto, Matematikawan, FMIPA Institut Teknologi Bandung, dengan judul  “Menyemai Benih Budaya Ilmiah di Pembelajaran Matematika dan IPA” . Serta 4. Prof.Dr. Umar A.Jenie, Guru Besar Fakultas Farmasi UGM dan juga Anggota Komisi IPD– AIPI, membahas “Etika Sains dan Bioetika  dalam Pendidikan Sains“.

Sasaran akhir dari seluruh kegiatan “Kepedulian Pada Pengembangan Sains Dasar” ini adalah menghasilkan suatu rekomendasi kebijakan dalam pengembangan sains dasar di Indonesia, yang berintikan:

  1. Penjelasan mengapa pengembangan basic science perlu mendapatkan perhatian yang serius dan berkelanjutan  dari pemerintah,  karena pengembangan sains dasar  adalah tanggung jawab pemerintah. Selain sebagai bagian dari kegiatan budaya, pengembangan basic science juga merupakan bagian dari  proses pendidikan, dimana pemahamannya merupakan landasan dasar bagi pendidikan berbagai bidang ilmu. Effek samping lain yang penting adalah sumbangannya pada pemecahan berbagai permasalahan yang menyangkut kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

  2. Ulasan kondisi apa saja yang diperlukan agar pengembangan sains dasar dapat berlangsung secara baik dan berkelanjutan. Dalam menunjang pengembangan sains dasar, pengadopsian bentuk kurikulum tertentu yang memberi wawasan berbagai bidang ilmu pada mahasiswa di tingkat awal dapat memberi kebiasaan melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Sementara itu agar institusi dapat bebas menentukan arah sains dasar yang akan ditempuh, institusi perlu diberi kebebasan untuk memilih arah pengembangan yang ingin ditempuh. 

  3. Agar pengembangan sains dasar tidak berhenti di kelas atau ruang kuliah, perlu ditentukan sikap apa yang ingin ditanamkan pafa peserta didik, yang diperlukan agar pengembangan sains dapat berlangsung secara berkelanjutan. Tanpa strategi pengubahan sikap ini, usaha pengembangan sains dasar akan tidak mencapai sasaran dalam membentuk masyarakat ilmiah.

  4. Memberi gambaran tentang apa yang berlangsung dalam pengajaran sains dasar di pendidikan menengah maupun pendidikan tinggi, khususnya kendala apa saja yang dihadapi dan usaha apa yang telah atau perlu dilakukan untuk mengatasinya. Untuk pengajaran di tingkat pendidikan tinggi akan terkait dengan keadaan pengajaran taraf pasca sarjana, yang menyiapkan pengembang sains dasar di masa datang. Selain itu juga tentang peran yang harus dijalankan oleh himpunan profesi dalam mengembangkan profesi para anggotanya, setelah meninggalkan kampus dan bergerak di masyarakat.

Seminar  dihadiri sekitar 200 peserta terdiri dari wakil anggota AIPI, Kementerian/Lembaga terkait baik pusat maupun daerah, Perwakilan Dosen Perguruan Tinggi, berbagai pemangku kepentingan dalam pengajaran dan pengembangan sains dasar,  para dekan dan dosen FMIPA sekitar Jawa Timur, jajaran Dikti, Dikdasmen, wakil  LPTK, dan Pengajar SLTA dan sederajat, serta Mahasiswa, Guru SMA Pegiat dan Pemerhati perkembangan Sains Dasar. 

Diawali  sambutan oleh Ketua Komisi IPD. Prof.Dr. Mien A. Rifai yang menekankan pada tujuan  seminar. “Diharapkan hasil dari kegiatan Seminar  ini adalah berupa: Ringkasan untuk pengambil kebijakan; Rekomendasi tentang issue-issu terkait  Pengembangan Basic Science khususnya terkait Pengembangan Budaya Ilmiah Melalui Penyadaran Sains.“Materi-materi tersebut akan dipergunakan sebagai materi audiensi dengan berbagai kalangan, termasuk pengambil kebijakan, parlemen dan media” jelas Mien Rifai di akhir sambutannya. Sambutan pembukaan ini  dilanjutkan  dengan arahan Rektor Universitas Negeri Malang yang diwakili oleh Pembantu Rektor I Prof. Dr. H.Hendyat Soetopo , M.Pd, dan sekaligus membuka seminar.

Dimoderatori oleh Dr. Abdur Rahman As’ari, seminar diawali dengan pengantar seminar oleh Prof.Dr. Susanto I. Rahayu (IPD-AIPI), yang menyampaikan “Dimensi Budaya dalam Pengembangan Sains”. “Pengembangan berbagai ilmu terapan saat ini, dan terlebih lagi dimasa depan, memerlukan penguasaan sains yang lebih tinggi dari di masa sebelumnya, dan”, ujar Susanto. Sesi pagi merupakan sesi pleno, yang diisi dengan paparan dari keempat pembicara, sedangkan sesi sore terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama adalah sesi diskusi dalam empat kelompok diskusi paralel, yang diikuti dengan bagian kedua berupa sesi pleno kedua yang merangkum hasil diskusi.

Dalam Kelompok I : Perubahan Iklim, bersama Prof.Dr. Kurniatun Hairiah  serta fasilitator dari Universitas Negeri Malang Prof. Sugeng Utaya (FMIPA-UM), telah mendiskusikan  masalah Adaptasi Perubahan Iklim dan Penyadaran Perubahan Iklim  dalam  pembelajaran Sains.

Disisi lain Kelompok II :  Keaneka Ragaman Hayati, bersama Dr .Jatna Supriyatna dan fasilitator Dr. Ibrohim, M.Si (FMIPA-UM), pembahasan menyangkut: Bioprospecting, Penyelarasan penyampaian Pemahaman Keaneka ragaman hayati ke Siswa SMA, aspek ekonomi Keanekaragaman hayati, dan usaha-usaha ke arah inventarisasi species.

Sedangkan dalam Kelompok III :  Pendidikan Keilmuan dan Kebudayaan, bersama Prof.Dr.Iwan Pranoto dan fasilatator Prof.Effendy,Ph.D (FMIPA-UM),  ruang lingkup bahasan adalah tentang: Pembelajaran yang menggugah keingin-tahuan, Pembahasan yang memupuk kemampuan bernalar, serta Penghindaran pengajaran matematika semu dan sains semu.

Kelompok IV: Etika dan Bioetika, bersama Prof. Dr. Umar A.Jenie dan fasilitator Dr. Sutopo, M.Si (FMIPA UM) membahas tentang cara-cara Implementasi Etika dan Bioetika dalam Pendidikan, serta  Penanaman konsep Hard Science dalam Pendidikan  Ilmu-Ilmu Sosial.

Pleno kedua yang dipandu oleh Prof.Satryo Soemantri Brodjonegoro, anggota Komisi Rekayasa AIPI, merangkum hasil ke 4  diskusi kelompok  dengan menekankan hal-hal berikut:

  • Saat ini telah terjadi politisasi dunia Pendidikan.

  • Pendidikan guru tidak boleh masal.

  • Perlu dibatasi peserta pendidikan calon guru, dan ditingkatkan selektivitas calon mahasiswa.  

  • Pendidikan guru disarankan melalui S1 bidang studi terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan  keprofesian guru. 

  • Untuk membina pengajaran yang kreatif dan effektif, perlu otonomi guru dan sekolah, karena  guru bukan pegawai dan sekolah bukan kantor/jawatan. 

  • Guru adalah pendidik dan karenanya tidak boleh menghakimi peserta didik. 

  • Budaya ilmiah harus diterapkan oleh guru di sekolah, oleh dosen di kampus, serta dilingkungan Kementerian dan Pimpinan Negara/Pemerintahan. 

Hasil DIskusi Kelompok membuahkan usulan mencakup:

1. Diskusi Kelompok: Perubahan Iklim

Penyebab, dampak dan upaya pengendaliannya. 

  • Perlu Perubahan Perilaku Manusia: Pemahaman, Penyikapan, Dan Tindakan;

  • Kurikulum Pendidikan Lingkungan (Monolitik: Untuk Jenjang Sekolah, Terintegrasi Unt Pendidikan Tinggi); Untuk Itu: Plh Dilaksanakan Guru Yang Profesional (Tersertikasi Sebagai Guru Plh Di Sekolah);

  • Program Adiwiyata Merupakan Program Yang Baik Untuk Diteruskan. Perlu Dikaji Program Seperti Ini Ada Di Perguruan Tinggi

  • Perbaikan Bahan Kajian Tentang Perubahan Iklim. Misalnya: Akar Masalah Dari Pemanasan Global

  • Pendidikan Lingkungan Juga Diterapkan Di Masyarakat Dengan Media Yang Tepat à Harus Ada Sinergi Antara Plh di Pendidikan Formal Dengan Pendidikan Non-/In-Formal (Pendidikan Masyarakat)

  • Kebijakan Yang Cerdas Dalam Rangka Mitigasi, Adaptasi, Dan Antisipasi Perubahan Iklim 

2.Diskusi Kelompok:  Keanekaragaman Hayati

Pemahaman dan penanaman konsep keanekaragaman hayati.

  • Terjadinya kesenjangan informasi tentang potensi keanekaragaman hayati antara para ilmuwan biologi dan masyarakat/siswa, karena kurangnya publikasi

  • Pembelajaran tentang keanekaragaman hayati masih dirasakan kurang menarik dan kurang menumbuhkan kesadaran akan pentingnya nilai keanekaragaman hayati.

  • Dalam pembelajaran keanekargaman hayati perlu ditumbuhkan BIOFILIA =rasa tertarik pada keanekaragaman hayati dan wawasan bioprospecting. 

  • Melalui Perkuliahan dan pembelajaran di sekolah dapat digalakkan penggalian informasi tentang keanekaragaman hayati dengan cara memberi tugas masing-masing mahasiswa/siswa untuk mengkaji satu spesies yang ada di sekitarnya. 

  • Dalam penggalian/pengkajian informasi tentang keanekaragaman hayati perlu dilanjutkan sampai aspek bioprospecting.

  • Dalam  pembelajaran keanekaragaman hayati ditekankan pada tiga aspek : Mempelajari, Menggunakan Dan Melestarikan

  • Perlunya dibentuk Clearing House di tingkat pusat atau di daerah-daerah/ PTà sebagai sumber informasi tentang keanekaragaman hayati dan potensinya.

3. Diskusi Kelompok: Pembinaan Pendidikan dan Kebudayaan

Pembinaan pembelajaran yang menggugah keingin-tahuan, serta pembahasan yang memupuk kemampuan bernalar.

  • Guru: Penyadaran sikap atas peran. Kemampuan berpikir saintifik. 

  • LPTK: Riset di LPTK perlu ditingkatkan. Integrasi teori dan praktik, dan pedagogik. Peningkatan content knowledge. 

  • Pelatihan guru: Melatihkan guru dalam membelajarakan berpikir, lewat mat dan IPA. Bagaimana menulis. Membangun budaya sekolah (ramah terhadap budaya ilmiah). 

  • Kurikulum: Kontinum sejak SD sampai SMA. Mengefektifkan pelatihan pengembangan kurikulum sekolah dan penjaminan mutu. Kurikulum hrs diujicoba.

  • Bahan Ajar: Buku harus memengembangkan proses berpikir, dll.

  • Kebijakan UN: Bukan di akhir jenjang, hanyauntuk pemetaan saja. UN sekarang telah mereduksi budaya ilmiah.

  • Pembelajaran di luar jam pelajaran: Penyediaan bahan ajar gratis, nirdinding. Pembelajaran untuk siswa untuk pembiasaan.

  • Kebijakan keprofesian guru: Guru dikurangi beban administrasi. Rekrutmen guru. Mensentralisasi status kepegawaian guru. Sistem pencatatan layanan guru. (Beban tugas guru)

  • Kebijakan persekolahan: Siswa dekat sekolah 

  • Pengembangan diri guru: Menumbuhkan kecakapan membelajarkan bernalar. 

4.Diskusi Kelompok: Etika dan Bioetika

Penyusunan/Pengembangan Standar Etika Sains Indonesia

  • Pancasila, sebagai falsafah Negara, digunakan sebagai pangkal dalam pengembangan standar etika sains Indonesia.

  • Prinsip-prinsip umum Universal Declaration on Bioethics and Human Right digunakan sebagai bahan masukan pengembangan standar etika sains, dan harus diperkaya dengan konteks budaya lokal Indonesia 

  • PEMBELAJARAN ETIKA SAINS:

  • Pembelajaran etika sains merupakan bagian integral dari pembelajaran sains dan teknologi. 

  • Pendekatan pembelajaran lebih menekankan pada diskusi/debat oleh siswa untuk menilai kasus-kasus etika, bukan pada transfer pengetahuan tentang mana yang melanggar atau tidak melanggar etika. 

Seminar sehari yang sangat sarat dengan diskusi, pembahasan, unjuk argumentasi, usul dan saran  itu, ditutup oleh Dekan FMIPA Univ Negeri Malang Prof Arif.Hidayat. ***(asw/ipd-aipi/2013)

Podium AIPI

Podium AIPIPodium AIPI, dengan tujuan menampung karya ilmuwan Indonesia yang berisi hasil renungan, buah pemikiran, dan gagasan orisinil yang dapat disumbangkan dalam upaya memajukan ilmu guna meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mencerdaskan kehidupan bangsa seperti diamanatkan oleh UUD 1945. Sesuai dengan visi dan misi Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Podium AIPI memang dimaksudkan untuk memuat tulisan yang dapat mencerminkan kebijakan ilmu yang tidak terikat waktu dan bukan eksekusi birokrasi yang kaku.

Download jurnal selengkapnya disini

 

Report on Indonesian Science Fund

ISFThere is near unanimity among scientists in Indonesia that the country is not producing science or innovation at the rate it should. Primary evidence is the low number of publications and patents. Scientists believe the cause lies in the difficulties encountered in securing support for research projects and the inflexible budgeting and reporting systems in place.

Find out more information about Creating an Indonesian Science Fund

 

Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia

Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia is a joint study by the U.S. National Academy of Sciences and the Indonesian Academy of Sciences that evaluates the quality and consistency of the existing data on maternal and neonatal mortality; devises a strategy to achieve the Millennium Development Goals related to maternal mortality, fetal mortality (stillbirths), and neonatal mortality; and identifies the highest priority interventions and proposes steps toward development of an effective implementation plan. According to the UN Human Development Index (HDI), in 2012 Indonesia ranked 121st out of 185 countries in human development. However, over the last 20 years the rate of improvement in Indonesia's HDI ranking has exceeded the world average. This progress may be attributable in part to the fact that Indonesia has put considerable effort into meeting the MDGs. This report is intended to be a contribution toward achieving the Millennium Development Goals.

DOWNLOAD