Guru dan Pakar Kemiskinan Itu Telah Berpulang


PROF SAJOGYO

Anggota Kehormatan Komisi Ilmu Sosial

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

Wafat, Jum’at, 17 Maret 2012

 

Bogor, Kompas - Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Prof Dr Ir Sajogyo meninggal dunia di Rumah Sakit PMI Bogor, Sabtu (17/3), sekitar pukul 05.00. Sajogyo, yang merumuskan pengukuran garis kemiskinan yang terkenal dengan sebutan ”Garis Kemiskinan Sajogyo”, wafat pada usia 86 tahun.

 

Eko Cahyono, salah seorang murid dan pegiat Sajogyo Institute (Sains), menuturkan, Prof Sajogyo meninggal dunia dalam tidurnya. ”Pada pukul 03.00, beliau bangun dan sempat minum. Lalu tidur lagi. Pukul 05.00, kami lihat beliau sudah tidak ada. Kami segera membawa ke RS PMI Bogor untuk meyakinkan. Di sana pihak rumah sakit menyatakan beliau wafat,” tuturnya.

 

Dukacita mendalam menyelimuti kediaman Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1964 yang terlahir dengan nama Sri Kusumo Kampto Utomo di Jalan Malabar 22, Bogor, itu. Sejak pagi, ratusan pelayat silih berganti ke rumah duka.

 

Sejumlah sivitas akademika IPB dan Universitas Indonesia (UI), pelaku dan pengamat ekonomi, serta pejabat kementerian dan Pemerintah Kabupaten Bogor tampak melayat. Di antara pelayat tampak hadir pengamat ekonomi Didik J Rachbini, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, dan Utusan Khusus Presiden untuk Penanggulangan Kemiskinan HS Dilon.

 

Upacara militer

Jenazah Prof Sajogyo dimakamkan dengan upacara militer sekitar pukul 13.20 di Taman Makam Pahlawan Dreded, Bondongan, Bogor, Jawa Barat. Adik almarhum, Kumoro Purwo Atmojo, mewakili keluarga dalam acara pelepasan jenazah menuju pemakaman.

 

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi yang memberi sambutan seusai pemakaman tampak tak kuasa menahan tangis. Di tengah sambutan, berkali-kali ia terdiam dan terisak. Bayu Krisnamurthi menyebut Prof Sajogyo sebagai guru, kakak, sahabat, dan panutan yang sudah memberikan banyak sumbangsih tidak hanya bagi keluarga dan IPB, tetapi juga pada bangsa.

 

”Konsep industri pedesaan, pengukuran garis kemiskinan, masalah gizi, hingga pemberdayaan perempuan adalah sedikit di antara hasil pemikiran beliau yang hingga kini masih digunakan. Beliau pula yang melakukan penelitian dan merintis Lembaga Riset Perencana Tingkat Kabupaten Terintegrasi yang kemudian direplikasi menjadi Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) di semua kabupaten di Indonesia. Banyak perubahan pada bangsa ini, tetapi esensi pemikiran beliau masih relevan,” kata Bayu.

 

Dukacita mendalam juga tampak saat Rektor IPB Herry Suhardiyanto memberi sambutan pelepasan.

 

”IPB kehilangan guru yang sangat peduli pada ilmu-ilmu sosial dan kemasyarakatan. Beliau telah memberikan dasar pada perkembangan ilmu sosiologi pedesaan dan sosial ekonomi pertanian. Banyak yang telah dilakukan dan menjadi panutan bagi kami semua,” kata Herry.

 

Lala M Kolopaking, salah seorang murid Prof Sajogyo yang kini menjabat Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian Pedesaan, IPB, mengatakan, hingga akhir hayatnya, Prof Sajogyo masih tetap mencurahkan perhatian pada masalah sosial kemasyarakatan.

 

”Di usia renta, dengan fisiknya yang kian lemah, dia masih memberikan masukan kepada kami walau kadang dengan isyarat yang kami terjemahkan melalui tulisan dan kami bacakan kembali untuk dia dengar. Begitu cintanya pada masalah sosial, dia mewariskan rumah dan seluruh hartanya, termasuk ribuan buku miliknya, untuk dimanfaatkan oleh peneliti dan mahasiswa,” kata Lala.

 

Pusat Studi Pembangunan Pertanian Pedesaan didirikan Sajogyo. Penghargaan yang pernah diterimanya, antara lain, Bintang Mahaputra Utama (2009) yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama (1993) dari Presiden Soeharto, dan Penghargaan Achmad Bakrie 2009 untuk Pemikiran Sosial (2009).

 

Sajogyo menikah dengan Prof Pudjiwati, Guru Besar IPB yang lebih dahulu wafat (2002). Pasangan ini tidak dikaruniai anak. Namun, anak didik Sains, lembaga yang didirikan Sajogyo pada 2005, ada 30 orang.

 

Ia, antara lain, juga mendirikan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia pada 1969 yang hingga kini masih eksis dan Bayu Khrisnamurthi sebagai ketua umum.

 

Dalam biografi Prof Sajogyo yang dikeluarkan Sains, antara lain dipaparkan, ia mulai mengenal dan bekerja untuk pedesaan sejak tahun 1949 ketika belajar di Fakultas Pertanian UI di Bogor (kini dikenal sebagai IPB). (REN/RTS).


(Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/03/18/0232201/guru.dan.pakar.kemiskinan.itu.telah.berpulang)

 

In Memoriam

 

Bukan Beras, tetapi Makanan Pokok...

Nama Sajogyo identik dengan pakar kemiskinan.

 

Nama Sajogyo identik dengan pakar kemiskinan. Dialah pencetus angka garis kemiskinan yang diukur berdasar kecukupan gizi. Tolok ukurnya: 2.100 kilokalori/orang/hari untuk rata-rata manusia Indonesia plus satu paket kebutuhan fisik bukan pangan.

 

Dipicu ukuran makro yang dipakai Badan Pusat Statistik (BPS) waktu itu, tahun 1973, kriteria kemiskinan Sajogyo pun diadopsi oleh BPS dalam kaitan kriteria penduduk miskin Indonesia meskipun pada tahun-tahun kemudian ditinggalkan.

 

Untuk mengatasi kemiskinan, Sajogyo—nama aslinya Kampto Utomo berubah menjadi Sajogyo pada tahun 1968—melihat dua jalur kunci, yakni pemberian peluang berusaha dan peluang bekerja. Oleh karena itu, Sajogyo termasuk pakar yang tidak setuju pemberian bantuan langsung tunai sebab tidak memandirikan.

 

Menurut Sajogyo, seharusnya pemerintah menyelenggarakan program-program mengatasi kemiskinan seperti Inpres Desa Tertinggal, artinya memberikan modal kerja agar penduduk miskin bisa meningkatkan pendapatan.

 

Dalam hal ini ia mengapresiasi program padat karya dan pembangunan infrastruktur besar-besaran berkat boom minyak dan bantuan luar negeri. Program penanggulangan kemiskinan itu memberdayakan masyarakat miskin di hampir 30.000 desa melalui usaha ekonomi produktif.

 

”Patokan Prof Sajogyo bukan beras, tetapi makanan pokok. Makanan pokok itu bukan harus beras, tetapi apa saja, asalkan asupannya senilai 320 kilogram beras penduduk kota dan 240 kilogram penduduk desa dalam setahun,” kata Budi Bakti Siregar dan Eko Tjahjono, dua aktivis Sajogyo Institute, di Bogor, Sabtu (17/3). Standar BPS lebih tinggi sebab yang diukur bukan garis kemiskinan, melainkan garis cukup pangan.

 

Menurut Eko Tjahjono, selain tolok ukur kemiskinan yang puluhan tahun menjadi rujukan, Sajogyo juga berjasa menegaskan perlunya perbaikan gizi dan program transmigrasi spontan. Karena pendapat-pendapatnya didasarkan atas penelitian di lapangan, usulan-usulan Sajogyo pun diadopsi sebagai program pemerintah.

 

Mencari kebenaran

Di manakah letak kekuatan Sajogyo? ”Ungkapan akademik Prof Sajogyo adalah teori untuk praktik dan praktik yang berteori,” ujar Eko Tjahjono. Sajogyo pun memahami sosiologi terapan dalam konteks itu. ”Setiap penelitian dan ilmu harus bermanfaat untuk masyarakat setempat.”

 

Penjelasan Eko dan Budi merujuk Kata Pengantar buku Ekososiologi, bunga rampai kumpulan tulisan Prof Sajogyo yang terbit dalam rangka perayaan 80 tahun usianya. Menurut ketiga editornya, Francis Wahono, AB Widyanto, dan Y Indarto, keilmuan Sajogyo adalah bagian dari laku hidup, bagian dari darma untuk kemanusiaan dan kesusila-sosialan.

 

Keilmuan Sajogyo berciri transdisipliner sebagai laku mencari kasunyatan (perbuatan menemukan kebenaran); penghayatan kebijakan Jawa, ngelmu itu kalakone kanti laku (ilmu itu diperoleh lewat perbuatan). Keilmuan Sajogyo menjadi bimbingan hidup berlaku susila-sosial, diperteguh aktivitasnya sebagai anggota Subud, seperti diakui Hardani, salah seorang aktivis, Sabtu kemarin.

 

Proses mencari kebenaran itu, dibekali keteguhan hatinya, melahirkan sejumlah paradigma khas Sajogyo. Tidak berangkat dari teori, tetapi dari lingkungan sosial yang hidup dalam masyarakat. Tidak ada tendensi spekulatif, apalagi utopis.

 

Gunawan Wiradi, salah satu pendamping Sajogyo Institute bersama Sediono MP Tjondronegoro, mengatakan, ”Prof Sajogyo itu guruku, bapakku, dan temanku.” Tulisan-tulisan Sajogyo sulit dicari rujukan teorinya. Tulisan-tulisannya orisinal, holistik, dan praktis. Budi Baik lantas menambahkan, ”Prof Sajogyo itu manusia otentik, dalam arti tulus mengatakan apa yang sebenarnya, tidak dibuat-buat, termasuk dalam menyampaikan mazhabnya”.

 

Banyak orang mengenal Prof Sajogyo sebagai ilmuwan andal dalam sosiologi perdesaan. Salah satu jasanya yang terbesar dan pengaruhnya masih terasa hingga kini adalah pengukuran kemiskinan dengan menggunakan garis kemiskinan setara konsumsi beras per rumah tangga.

 

Riset langsung ke lapangan pula yang kemudian menjadi inti kegiatan Sajogyo Institute, lembaga yang diteruskan oleh anak-cucu-cicit Sajogyo. Lembaga itu mereka sebut sebagai ”rumah belajar”, berdiri tahun 2005, terus berkembang, melibatkan lebih dari 200 penggiat riset di berbagai daerah, juga ketika Prof Sajogyo sudah terbaring di tempat tidur sejak tiga tahun lalu.

 

Lembaga ini ingin membangun Mazhab Bogor, paradigma pemikiran yang bersumber pada cara kerja akademik yang asketis almarhum Sajogyo; cara hidup asketis intelektual yang juga dikagumi Jakob Oetama seperti disampaikan dalam jejak langkahnya, Syukur Tiada Akhir (2011).

 

 

Bantu petani gurem

Sajogyo dikenal banyak melakukan riset tentang keadaan sosial-ekonomi pedesaan sejak tahun 1970-an. Karena itu, almarhum dapat mendorong lahirnya sejumlah keputusan penting pemerintah yang bertujuan mengurangi kemiskinan di pedesaan, terutama kemiskinan rumah tangga petani.

 

Tercatat tahun 1970-1980-an Orde Baru giat membangun, terutama berupaya meningkatkan produksi beras dan penurunan kemiskinan di pedesaan. Saat itu pun Sajogyo sudah bersuara sangat kritis terhadap kebijakan pemerintah dalam pembangunan pedesaan, pengurangan kemiskinan, dan pembangunan pertanian.

 

Bagi Sajogyo, pembangunan tidak cukup hanya meningkatkan produksi pangan (beras), tetapi juga kesejahteraan petani. Petani harus dibantu untuk tidak membagi tanahnya karena diwariskan kepada anak-anak mereka dengan akibat luas kepemilikan tanah menjadi semakin sempit.

 

Salah satu keputusan penting pemerintah yang dipengaruhi oleh Sajogyo adalah pentingnya membantu petani gurem dengan kredit usaha tani serta perlunya petani mendapat subsidi pupuk dan pestisida selain jaminan harga dasar.

 

Sumbangan penting Sajogyo yang tidak banyak diketahui orang menyangkut pemajuan posisi perempuan. Dalam hal ini Sajogyo banyak bekerja sama dengan istrinya, Pujiwati, yang sudah meninggal tahun 2002. Program posyandu pun lahir dari kegelisahan Sajogyo melihat kemiskinan. Program itu ingin memotong kemiskinan melalui posyandu yang memberikan layanan terpadu bagi anak balita dan ibunya.

 

Bagi setiap mahasiswa IPB, Subjurusan Sosiologi Pedesaan Fakultas Pertanian identik dengan Sajogyo. Dia sosok yang tak banyak cakap dan tidak pelit berbagi ilmu.

 

Selamat jalan, Prof Sajogyo.... (ST SULARTO/NINUK MARDIANA P)


Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/03/18/02343729/bukan.beras.tetapi.makanan.pokok...

Podium AIPI

Podium AIPIPodium AIPI, dengan tujuan menampung karya ilmuwan Indonesia yang berisi hasil renungan, buah pemikiran, dan gagasan orisinil yang dapat disumbangkan dalam upaya memajukan ilmu guna meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mencerdaskan kehidupan bangsa seperti diamanatkan oleh UUD 1945. Sesuai dengan visi dan misi Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Podium AIPI memang dimaksudkan untuk memuat tulisan yang dapat mencerminkan kebijakan ilmu yang tidak terikat waktu dan bukan eksekusi birokrasi yang kaku.

Download jurnal selengkapnya disini

 

Report on Indonesian Science Fund

ISFThere is near unanimity among scientists in Indonesia that the country is not producing science or innovation at the rate it should. Primary evidence is the low number of publications and patents. Scientists believe the cause lies in the difficulties encountered in securing support for research projects and the inflexible budgeting and reporting systems in place.

Find out more information about Creating an Indonesian Science Fund

 

Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia

Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia is a joint study by the U.S. National Academy of Sciences and the Indonesian Academy of Sciences that evaluates the quality and consistency of the existing data on maternal and neonatal mortality; devises a strategy to achieve the Millennium Development Goals related to maternal mortality, fetal mortality (stillbirths), and neonatal mortality; and identifies the highest priority interventions and proposes steps toward development of an effective implementation plan. According to the UN Human Development Index (HDI), in 2012 Indonesia ranked 121st out of 185 countries in human development. However, over the last 20 years the rate of improvement in Indonesia's HDI ranking has exceeded the world average. This progress may be attributable in part to the fact that Indonesia has put considerable effort into meeting the MDGs. This report is intended to be a contribution toward achieving the Millennium Development Goals.

DOWNLOAD